Di tengah riuh rendah kompetisi usia dini yang penuh semangat dan gairah, selalu ada satu dua nama yang mencuri perhatian bukan semata karena postur atau popularitas, melainkan karena keberanian, kerja keras, dan mental baja yang mereka tunjukkan di atas lapangan. Di tim biMBA AIUEO Soccer School U-13, sosok itu adalah Muhamad Adillah Priadiva.
Lahir pada 10 Oktober 2014, Adillah—begitu ia akrab disapa—tumbuh sebagai anak yang aktif, ceria, dan penuh rasa ingin tahu. Di usianya yang baru menginjak 11 tahun, ia sudah menunjukkan karakter kuat yang menjadi fondasi penting dalam dunia sepakbola: berani mengambil keputusan, tidak takut menghadapi lawan yang lebih besar, serta memiliki tekad kuat untuk terus berkembang.
Awal Perjalanan: Dari Lapangan Sekolah ke Kompetisi Bergengsi

Adillah merupakan siswa SD Bendungan Hilir 09 Pagi. Di lingkungan sekolah, ia dikenal sebagai anak yang supel dan mudah bergaul. Namun siapa sangka, di balik senyumnya yang sederhana, tersimpan ambisi besar untuk menjadi pemain sepakbola yang bisa membanggakan orang tua, sekolah, dan klubnya.
Perjalanan sepakbolanya dimulai dari kegemarannya bermain bola bersama teman-teman seusia di lingkungan rumah. Dari sekadar permainan sore hari di lapangan kecil, kecintaannya pada sepakbola semakin tumbuh. Orang tuanya, terutama sang ibu, Apriliani, melihat potensi sekaligus keseriusan dalam diri putranya. Dukungan keluarga menjadi bahan bakar utama yang mengantarkannya bergabung dengan biMBA AIUEO Soccer School.
Di sinilah bakat dan mentalnya mulai ditempa secara sistematis. Latihan demi latihan dijalani dengan disiplin. Ia belajar memahami taktik, menjaga posisi, serta meningkatkan kecepatan dan akurasi umpan. Di usia belia, ia sudah mengerti bahwa sepakbola bukan hanya tentang menggiring bola dan mencetak gol, melainkan tentang kerja sama tim dan tanggung jawab.
Postur Kecil, Nyali Besar

Dengan tinggi badan 145 cm dan berat 47 kg, Adillah memang kerap terlihat lebih kecil dibandingkan beberapa lawannya. Dalam pertandingan-pertandingan kompetitif, terutama di kategori usia yang kerap diisi pemain bertubuh tinggi besar, ia sering berada di tengah tekanan fisik yang tidak ringan.
Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Banyak pemain seusianya mungkin akan merasa minder atau ragu ketika harus berhadapan dengan lawan yang secara fisik lebih dominan. Tetapi tidak bagi Adillah. Ia menjadikan keterbatasan fisik sebagai motivasi untuk bermain lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih berani.
Sebagai pemain dengan kaki dominan kanan, ia sering ditempatkan di sisi kanan lapangan—baik sebagai winger maupun bek sayap. Dari posisi inilah keberaniannya paling terlihat. Ia tak segan melakukan overlap untuk membantu serangan, menusuk dari sisi kanan, atau memberikan umpan silang ke jantung pertahanan lawan.
Sering kali ia harus berduel satu lawan satu dengan pemain yang lebih tinggi dan lebih kuat. Tubuhnya mungkin kecil, tetapi tekadnya tidak pernah surut. Ia belajar menggunakan kecepatan, kelincahan, dan timing yang tepat untuk mengatasi perbedaan fisik tersebut.
Kontribusi di Liga TopSkor
Saat ini, Adillah tergabung dalam skuad biMBA AIUEO SS U-13 yang berkompetisi di Liga TopSkor. Liga ini dikenal sebagai salah satu kompetisi usia dini paling kompetitif di Indonesia, tempat banyak talenta muda mengasah kemampuan sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Di setiap pertandingan Liga TopSkor, Adillah menunjukkan perkembangan signifikan. Ia tidak hanya berlari tanpa arah, tetapi memahami peran taktisnya. Ketika tim sedang membangun serangan, ia aktif membuka ruang di sisi kanan, memberikan opsi umpan bagi gelandang, serta berani melakukan penetrasi.
Sebaliknya, ketika tim kehilangan bola, ia tidak tinggal diam. Ia segera turun membantu pertahanan, melakukan pressing, bahkan tak jarang melakukan tekel bersih untuk merebut bola kembali.
Pelatihnya menilai bahwa kekuatan utama Adillah bukan hanya pada kemampuan teknis, tetapi pada mentalitasnya. Ia tidak mudah menyerah meski tim tertinggal. Ia terus berteriak memberi semangat kepada rekan-rekannya. Dalam situasi genting, ia tetap tenang dan fokus.
Momen Berani yang Tak Terlupakan

Ada satu momen yang sering diceritakan ulang oleh rekan-rekannya. Dalam sebuah pertandingan penting Liga TopSkor, biMBA AIUEO SS tertinggal satu gol. Tekanan semakin besar, dan waktu semakin menipis.
Di sisi kanan lapangan, Adillah menerima bola di bawah tekanan dua pemain lawan. Alih-alih membuang bola atau kehilangan kontrol karena panik, ia justru melakukan gerakan tipu sederhana, melewati satu pemain, lalu berlari cepat menyusuri garis. Dengan akurasi yang terlatih, ia melepaskan umpan silang ke depan gawang.
Umpan tersebut berbuah gol penyama kedudukan.
Sorak sorai penonton dan tepuk tangan pelatih menjadi bukti bahwa keberanian sering kali menjadi pembeda. Bagi Adillah, momen itu bukan sekadar assist, melainkan bukti bahwa dirinya mampu berkontribusi besar meski secara fisik tidak dominan.
Menembus Ajang Persija Ramadhan Cup U-14 2026
Perkembangan pesatnya membuat Adillah mendapat kesempatan berharga untuk ikut serta dalam ajang Persija Ramadhan Cup U-14 2026. Meski secara usia masih di kategori U-13, ia dipercaya untuk bersaing di kelompok usia yang lebih tinggi.
Bermain di kategori U-14 tentu menjadi tantangan tersendiri. Lawan-lawan yang dihadapi lebih matang secara fisik dan pengalaman. Namun lagi-lagi, hal tersebut tidak menyurutkan mentalnya.
Di ajang tersebut, ia menunjukkan bahwa kualitas tidak selalu ditentukan oleh usia. Ia tampil percaya diri, berani duel, dan tetap konsisten membantu serangan dari sisi kanan. Bahkan beberapa kali ia mampu merepotkan lini pertahanan lawan dengan kecepatan dan determinasi yang dimilikinya.
Pengalaman di Persija Ramadhan Cup menjadi pelajaran berharga. Ia belajar tentang tempo permainan yang lebih cepat, intensitas duel yang lebih keras, serta pentingnya komunikasi dalam tim.
Disiplin dan Etos Latihan
Kesuksesan di lapangan tentu tidak datang begitu saja. Di balik performanya, ada rutinitas latihan yang dijalani dengan disiplin. Adillah dikenal sebagai pemain yang jarang absen latihan. Ia datang lebih awal, melakukan pemanasan dengan serius, dan mendengarkan instruksi pelatih dengan penuh perhatian.
Di rumah, ia juga menjaga kebugaran dengan pola hidup sehat. Asupan makanan diperhatikan, waktu istirahat dijaga, dan waktu bermain gadget dibatasi agar tidak mengganggu fokusnya sebagai atlet muda.
Mental kuatnya juga dibangun dari dukungan keluarga. Sang ibu selalu hadir memberi semangat, baik saat ia tampil gemilang maupun ketika harus menerima kekalahan. Nilai-nilai seperti kerja keras, rendah hati, dan pantang menyerah terus ditanamkan dalam kesehariannya.
Sosok Rendah Hati di Luar Lapangan
Menariknya, di luar lapangan Adillah tetaplah anak 11 tahun yang ceria. Ia senang bercanda dengan teman-temannya, menghormati guru di sekolah, serta membantu orang tua di rumah.
Ia tidak pernah merasa dirinya paling hebat meski sering mendapat pujian atas keberaniannya. Kerendahan hati inilah yang membuatnya disukai banyak orang—baik rekan setim maupun pelatih.
Baginya, sepakbola bukan hanya tentang prestasi pribadi, tetapi tentang kebersamaan. Ia selalu menekankan pentingnya tim. “Kalau tim menang, itu kemenangan bersama. Kalau kalah, kita perbaiki bersama,” begitu prinsip yang sering ia pegang.
Masa Depan yang Masih Panjang
Perjalanan Adillah tentu masih sangat panjang. Usianya yang masih 11 tahun membuka banyak peluang untuk berkembang. Dengan pembinaan yang tepat, disiplin yang konsisten, serta mental yang terus diasah, bukan tidak mungkin ia akan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi di masa depan.
Yang paling penting, ia sudah memiliki modal utama: keberanian.
Keberanian untuk berduel.
Keberanian untuk membantu serangan meski harus berhadapan dengan lawan yang lebih besar.
Keberanian untuk bangkit saat terjatuh.
Keberanian untuk bermimpi.
Di tengah lapangan hijau, ketika peluit dibunyikan dan pertandingan dimulai, Adillah selalu tampil dengan sorot mata penuh keyakinan. Tubuhnya mungkin kecil di antara lawan-lawannya, tetapi semangatnya jauh lebih besar dari sekadar ukuran fisik.
Penutup: Lebih dari Sekadar Pemain Sayap Kanan
Muhamad Adillah Priadiva bukan hanya pemain sisi kanan yang rajin membantu serangan. Ia adalah simbol bahwa dalam sepakbola usia dini, karakter jauh lebih penting daripada postur tubuh. Mental baja, disiplin, dan keberanian adalah fondasi utama yang akan menentukan seberapa jauh langkah seorang pemain.
Di Liga TopSkor, ia terus mengukir pengalaman.
Di Persija Ramadhan Cup U-14 2026, ia menantang batas kemampuannya.
Di biMBA AIUEO SS U-13, ia tumbuh sebagai bagian penting dari tim.
Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda lainnya: bahwa ukuran tubuh bukanlah penghalang untuk tampil berani. Bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bersinar, selama ia mau berusaha dan tidak mudah menyerah.
Dan di sisi kanan lapangan itu, ketika bola mengalir cepat dan pertandingan memanas, selalu ada satu sosok kecil dengan langkah pasti dan hati yang besar—Muhamad Adillah Priadiva, si pemberani dari biMBA AIUEO SS.
“TETAP SEMANGAT DAN TERUS BELAJAR”




