Persija Training Center, Sawangan, Depok — 21–23 Februari 2026
Ada energi yang berbeda ketika malam turun di Persija Training Center, Sawangan, Depok. Lampu-lampu lapangan yang menyala terang menciptakan arena bercahaya di tengah gelapnya malam, memantulkan kilau hijau rumput yang terawat sempurna. Di sinilah, di bawah sinar yang menembus kegelapan seperti mercusuar harapan, para pemain muda biMBA AIUEO Soccer School datang untuk membuktikan diri mereka kepada dunia.
Persija Ramadhan Cup 2026 — turnamen yang berlangsung dari 19 Februari hingga 3 Maret 2026 — bukan sekadar kompetisi biasa di kalender sepak bola junior Jakarta. Ini adalah panggung yang dipilih dengan cermat oleh Coach Dedy Doreis sebagai jembatan strategis di tengah jeda Liga Topskor yang sengaja dijadwalkan menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Di saat banyak tim memilih istirahat, biMBA AIUEO SS justru memilih untuk terus bergerak, terus berkompetisi, terus mengasah ketajaman yang telah dibangun selama berbulan-bulan latihan keras.
Keputusan itu terbukti menghasilkan kisah-kisah yang luar biasa.
Dalam tiga malam berturut-turut — Sabtu 21 Februari, Minggu 22 Februari, dan Senin 23 Februari — biMBA AIUEO SS menorehkan catatan yang akan lama dikenang dalam sejarah akademi. Dua tim dari kategori U-16 tampil bagaikan badai yang tak bisa dibendung, menghancurkan pertahanan lawan dengan kombinasi gol yang memukau. Sementara itu, tim U-14 menghadapi kenyataan pahit di malam ketiga — sebuah kekalahan yang, bila disikapi dengan benar, justru menjadi bahan bakar paling kuat untuk kebangkitan yang lebih gemilang.
Inilah laporan lengkap perjalanan biMBA AIUEO SS dalam tiga malam pertama yang mendebarkan di Persija Ramadhan Cup 2026.
Ketika Malam Milik Si Biru
Pukul delapan malam. Udara Sawangan terasa segar, angin bertiup pelan menyapu lapangan yang sudah siap menjadi arena perang. Penonton yang hadir mulai memadati pinggiran lapangan, bercampur dengan orang tua, pelatih, dan para pendukung yang datang dengan semangat membara. Persija SS Bintaro, dengan label besar yang melekat pada nama mereka sebagai tim binaan salah satu klub paling ikonik di Indonesia, berdiri di salah satu sisi lapangan dengan kepercayaan diri yang terpancar jelas.
Di sisi lain, biMBA AIUEO SS Biru — tim yang berseragam kuning merah dan celana biru ini melakukan pemanasan dengan tenang, dengan ritme yang teratur, dengan fokus yang membedakan tim ini dari yang lain. Ada sesuatu dalam cara mereka bergerak, dalam cara mereka berkomunikasi di atas lapangan, yang mengisyaratkan bahwa malam ini akan menjadi milik mereka.
Wasit meniup peluit. Pertandingan dimulai.
Menit-menit awal berjalan dengan saling jajaki. Persija SS Bintaro mencoba membangun permainan dari belakang, mencari ruang di antara tekanan yang mulai diberikan oleh lini tengah biMBA AIUEO SS Biru. Namun tekanan itu bukan sekadar tekanan — ini adalah tekanan terorganisir, pressing yang dirancang untuk memotong jalur distribusi bola lawan, untuk menciptakan kepanikan di barisan pertahanan mereka.
Dan ketika kepanikan itu muncul, biMBA AIUEO SS Biru langsung menghukumnya.
Gol pertama datang seperti kilat yang tiba-tiba. Bola berpindah cepat dari lini tengah ke depan, satu sentuhan, dua sentuhan, dan jaring gawang Persija SS Bintaro bergetar untuk pertama kalinya. Sorak sorai memecah ketenangan malam. Papan skor berubah: 0-1.
Namun itu baru permulaan.
Seperti avalanche yang sekali mulai menggelinding tak bisa dihentikan, biMBA AIUEO SS Biru terus menekan, terus menciptakan peluang, terus mengeksploitasi setiap celah yang ada. Gol demi gol datang silih berganti — di babak pertama, momentum sudah sepenuhnya milik tim berseragam biru. Pertahanan Persija SS Bintaro yang kesulitan mengorganisir diri menghadapi pergerakan tanpa bola yang dinamis dan kombinasi umpan yang mengalir lancar seperti air sungai di musim hujan.
Di babak kedua, tidak ada tanda-tanda biMBA AIUEO SS Biru akan mengendurkan tekanan. Coach Dedy Doreis — yang mengamati dari pinggir lapangan dengan ekspresi penuh perhitungan — membiarkan para pemainnya bermain dengan kebebasan yang bertanggung jawab, mengekspresikan semua yang telah mereka pelajari selama berbulan-bulan latihan intensif di Intercon biMBA field.
Ketika peluit panjang akhirnya berbunyi, papan skor menampilkan angka yang hampir tak bisa dipercaya: Persija SS Bintaro 0 – 7 biMBA AIUEO SS Biru.
Tujuh gol. Tanpa satu pun balasan.
Itu bukan kemenangan biasa — itu adalah pernyataan retentang seberapa jauh tim ini telah berkembang, tentang seberapa dalam filosofi permainan Coach Dedy Doreis telah meresap ke dalam setiap sendi permainan mereka. Di bawah cahaya lampu yang memandikan lapangan Sawangan, biMBA AIUEO SS Biru menari di atas kemenangan mereka, merayakannya dengan suka cita yang tulus, dengan kegembiraan anak-anak muda yang tahu bahwa malam ini, mereka telah memberikan yang terbaik.
Giliran Panji Merah Berkibar
Dua puluh empat jam setelah kemenangan spektakuler tim Biru, giliran biMBA AIUEO SS Merah mengambil panggung yang sama. Pukul 19:10 WIB — sepuluh menit lebih awal dari pertandingan semalam — lampu-lampu Persija Training Center kembali menyala, menerangi arena yang malam ini akan menjadi saksi babak kedua dari dominasi biMBA AIUEO SS dalam kategori U-16.
Persija SS Bintaro kembali hadir. Dan sungguh, ada keberanian yang patut dihargai dalam kehadiran mereka — tim yang semalam menyaksikan rekan mereka diluluhlantakkan tujuh gol, kini harus menghadapi saudara kembar kekuatan dari akademi yang sama. Mereka datang dengan tekad untuk memperbaiki diri, untuk membuktikan bahwa hasil semalam adalah anomali, bukan cerminan sesungguhnya.
biMBA AIUEO SS Merah tidak memberikan waktu untuk menyesuaikan diri.
Sejak peluit pertama berbunyi, tim berseragam merah ini langsung menunjukkan karakter yang membedakan mereka — agresif dalam perebutan bola, cepat dalam transisi dari bertahan ke menyerang, dan presisi dalam penyelesaian akhir. Berbeda dengan gaya permainan tim Biru yang lebih mengalir dan membangun dari belakang, tim Merah bermain dengan intensitas yang lebih langsung, lebih vertikal, lebih mengancam setiap kali bola mencapai sepertiga akhir lapangan lawan.
Gol pembuka datang dari serangan yang dibangun dengan sabar namun diakhiri dengan ketegasan. Pemain depan biMBA AIUEO SS Merah menerima bola dalam posisi yang menguntungkan dan tanpa ragu, melepaskan tembakan yang merobek jaring. 0-1. Lapangan bergema dengan sorak sorai.
Yang membuat pertandingan ini berbeda dari sekadar pengulangan malam sebelumnya adalah cara biMBA AIUEO SS Merah mengontrol tempo. Mereka tahu kapan harus mempercepat, kapan harus memperlambat, kapan harus menahan bola untuk menguras energi lawan, dan kapan saatnya menekan pedal gas hingga habis. Ini bukan hanya soal bakat individual — ini adalah kecerdasan kolektif yang hanya bisa dimiliki oleh tim yang telah berlatih keras bersama, yang telah memahami satu sama lain hingga ke tingkat intuisi.
Gol kedua, ketiga, keempat, dan kelima datang dengan berbagai cara — melalui skema serangan balik yang cepat, melalui bola-bola set piece yang dieksekusi dengan disiplin, melalui kombinasi satu-dua sentuhan di area penalti yang membuat penjaga gawang lawan tidak berdaya. Setiap gol disambut dengan perayaan yang hangat, dengan pelukan yang tulus di antara sesama pemain, dengan teriakan semangat dari bangku pemain cadangan.
Persija SS Bintaro berjuang. Mereka tidak menyerah, tidak berhenti berlari, tidak kehilangan semangat meski papan skor semakin memberatkan mereka. Dan itulah yang sejatinya membuat sepak bola begitu indah — dalam kekalahan pun, karakter seseorang terbentuk.
Peluit panjang berbunyi. Persija SS Bintaro 0 – 5 biMBA AIUEO SS Merah.
Dalam dua malam berturut-turut, dua tim dari kategori U-16 biMBA AIUEO SS telah mencetak 12 gol ke gawang lawan yang sama tanpa kebobolan satu pun. Sebuah statistik yang berbicara dengan sangat lantang tentang soliditas tim ini, tentang ketajaman lini serang mereka, dan tentang disiplin pertahanan yang menjadi fondasi dari semua kemenangan besar.
Coach Rifqi berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan para pemainnya merayakan kemenangan. Di wajahnya terpancar kepuasan yang bercampur dengan kerja keras — kepuasan seorang pelatih yang melihat para anak didiknya tidak hanya menang, tetapi menang dengan cara yang benar, dengan sepak bola yang indah dan bermartabat.
Ketika Kekalahan Mengajarkan Apa yang Kemenangan Tidak Bisa
Malam Senin membawa suasana yang berbeda ke Persija Training Center. Giliran kategori U-14 turun ke arena — usia yang lebih muda, pengalaman yang lebih terbatas, tetapi semangat yang tidak kalah membara. biMBA AIUEO SS dalam kategori U-14 datang dengan modal kepercayaan diri yang dibangun dari melihat kakak-kakak mereka di U-16 tampil begitu dominan dua malam sebelumnya.
Gemilang Tangsel adalah lawan yang berbeda kaliber. Tim dari Tangerang Selatan ini datang dengan persiapan yang matang, dengan pemahaman taktis yang tidak bisa diremehkan, dan dengan motivasi yang kuat untuk membuktikan diri di turnamen bergengsi ini. Mereka bukan lawan yang akan tunduk begitu saja.
Pukul 20:50 WIB, pertandingan dimulai.
Babak pertama berjalan dengan intensitas tinggi. Kedua tim saling mengukur kekuatan, saling mencari kelemahan, saling berebut inisiatif permainan. biMBA AIUEO SS bermain dengan skema yang sudah familiar — membangun dari belakang, mencoba menguasai lini tengah, menciptakan peluang melalui kombinasi permainan pendek. Namun Gemilang Tangsel tidak memberikan ruang dengan mudah.
Lalu datanglah momen yang mengubah segalanya — Gemilang Tangsel berhasil membobol gawang biMBA AIUEO SS. Lapangan bergemuruh. Para pemain muda biMBA AIUEO SS sejenak terdiam, mencerna realita bahwa mereka kini tertinggal. Ini adalah salah satu ujian terberat dalam sepak bola muda — bagaimana bereaksi ketika keadaan berbalik melawan harapan.
Jawaban mereka membanggakan. Alih-alih panik atau kehilangan bentuk, biMBA AIUEO SS justru bangkit. Mereka merapatkan barisan, memperkuat komunikasi, dan terus bermain sesuai instruksi pelatih. Dan ketika peluang emas datang, mereka tidak menyia-nyiakannya. Satu gol berhasil dicetak — 1-1. Keseimbangan kembali. Semangat menyala kembali seperti api yang sempat redup namun tidak pernah benar-benar padam.
Kedua tim memasuki babak kedua dalam kondisi yang seimbang, dengan determinasi yang sama-sama membara. Namun di sinilah pengalaman dan ketajaman Gemilang Tangsel dalam memanfaatkan momen krusial berbicara lebih keras. Mereka berhasil mencetak gol kedua di saat yang tepat, mengunci keunggulan yang terbukti cukup untuk mengamankan kemenangan.
Peluit panjang berbunyi. Gemilang Tangsel 2 – 1 biMBA AIUEO SS.
Kekalahan pertama. Dan dalam diam yang turun setelah peluit berbunyi, di wajah-wajah pemain muda biMBA AIUEO SS yang U-14, ada campuran emosi yang kompleks — kecewa, tentu saja, karena mereka telah berjuang keras dan ingin menang. Namun ada juga sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekecewaan — ada kesadaran diri, ada proses refleksi yang mulai berjalan, ada pertanyaan-pertanyaan yang mulai tumbuh di dalam diri mereka tentang apa yang harus diperbaiki, apa yang harus ditingkatkan.
Coach Abay mengumpulkan tim setelah pertandingan. Dalam lingkaran kecil di bawah lampu lapangan yang sinarnya mulai meredup, sang pelatih berbicara dengan tenang namun penuh makna. Tidak ada amarah, tidak ada hukuman kata-kata yang keras. Hanya analisis yang jernih, penghargaan atas perjuangan yang sudah diberikan, dan arah yang jelas untuk hari-hari ke depan.
“Kalian sudah berjuang. Kekalahan ini bukan akhir — ini adalah awal dari pemahaman yang lebih dalam,” adalah esensi dari pesan yang selalu menjadi nafas dari filosofi biMBA AIUEO SS.
Jika kita membaca tiga malam pertama biMBA AIUEO SS di Persija Ramadhan Cup 2026 seperti membaca sebuah buku, maka kita akan menemukan bahwa ini bukan sekadar cerita tentang sepak bola. Ini adalah cerita tentang manusia muda yang sedang dalam proses menjadi — tentang karakter yang sedang dibentuk, tentang mental yang sedang ditempa, tentang mimpi-mimpi yang sedang dirajut satu demi satu di atas lapangan hijau.
Tim U-16 Biru dan Merah telah memberikan argumen yang tak terbantahkan tentang kemajuan mereka. Dua belas gol dalam dua pertandingan, nol kebobolan — angka-angka itu bukan kebetulan. Itu adalah buah dari latihan yang konsisten, dari pemahaman taktis yang terus berkembang, dari kepercayaan diri yang dibangun di atas fondasi kerja keras yang nyata. Mereka bermain tidak hanya dengan kaki, tetapi juga dengan kepala dan hati.
Setiap gol yang dicetak tim Biru dan tim Merah adalah bukti bahwa filosofi Coach Dedy Doreis — yang selalu menekankan kombinasi permainan kolektif di atas kejeniusan individual — telah benar-benar merasuk ke dalam DNA permainan mereka. Tidak ada satu pun pemain yang bermain untuk dirinya sendiri. Semua bergerak, semua berpikir, semua berjuang untuk tim, untuk akademi, untuk nama yang mereka bawa di dada masing-masing.
Sementara itu, kekalahan tim U-14 dari Gemilang Tangsel menghadirkan jenis pelajaran yang berbeda namun sama berharganya. Di usia U-14, tubuh masih tumbuh, pengalaman masih menumpuk perlahan, dan setiap kekalahan adalah laboratorium yang jauh lebih berharga dari sekedar menang tanpa tantangan. Fakta bahwa mereka berhasil bangkit dari ketertinggalan dan menyamakan kedudukan menunjukkan karakter yang sesungguhnya — mereka tidak menyerah ketika keadaan sulit, mereka tidak berhenti berjuang ketika gol pertama lawan mengoyak kepercayaan diri mereka.
Itulah benih-benih yang sedang ditanam Coach Dedy Doreis di ladang Persija Ramadhan Cup ini — benih yang pada saatnya nanti akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh, yang akarnya menancap dalam ke nilai-nilai sepak bola sejati.
Persija Ramadhan Cup 2026 masih berlangsung hingga 3 Maret 2026. Masih banyak malam yang menanti, masih banyak pertandingan yang akan dimainkan, masih banyak cerita yang akan ditulis. biMBA AIUEO SS — dengan semua kategori tim yang terlibat — memasuki sisa turnamen ini dengan amunisi yang berbeda-beda namun sama-sama kuat.
Tim U-16 Biru dan Merah memasuki pertandingan berikutnya di atas puncak kepercayaan diri yang telah dibangun kokoh. Dua kemenangan besar itu harus dijaga dengan sikap yang tepat — bukan arogan, tetapi juga tidak boleh kehilangan keberanian dan ketajaman yang telah menghasilkan 12 gol. Lawan-lawan berikutnya pasti sudah mendengar kabar tentang dominasi mereka dan akan datang dengan strategi yang lebih siap, pertahanan yang lebih rapat, dan determinasi yang lebih kuat untuk menghentikan mesin gol biMBA AIUEO SS.
Tim U-14, di sisi lain, memasuki pertandingan berikutnya dengan api yang menyala di dalam dada mereka. Kekalahan dari Gemilang Tangsel harus dijadikan bahan bakar, bukan beban. Setiap sesi latihan setelah kekalahan itu, setiap analisis yang dilakukan bersama Coach Abay, setiap diskusi di antara sesama pemain tentang apa yang harus diperbaiki — semua itu adalah proses yang akan menjadikan mereka tim yang lebih baik dari sebelum turnamen ini dimulai.
Persija Training Center, Sawangan, Depok akan terus menyaksikan perkembangan ini. Lampu-lampunya akan terus menyala, memandikan lapangan dengan cahaya yang memungkinkan para pemain muda ini untuk terus berjuang, terus belajar, terus tumbuh.
Di penghujung tiga malam yang penuh kisah ini, ada satu hal yang perlu diingat oleh semua pihak yang terlibat — para pemain, orang tua, suporter, dan siapapun yang mengikuti perjalanan biMBA AIUEO SS.
Skor-skor itu — 7-0, 5-0, 1-2 — hanyalah angka-angka di papan. Yang sesungguhnya sedang dibangun di sini jauh lebih besar dari sekedar angka. Di setiap sprint yang dilakukan saat kelelahan hampir tak tertahankan, di setiap keputusan sepersekian detik yang diambil di bawah tekanan pertandingan, di setiap kali seorang pemain bangkit setelah jatuh dan memilih untuk terus berlari — itulah yang sesungguhnya sedang dibentuk.
Karakter. Ketangguhan. Integritas. Kecintaan pada proses.
Nilai-nilai inilah yang selalu menjadi inti dari semua yang dilakukan di biMBA AIUEO Soccer School, di bawah asuhan Coach Dedy Doreis, dalam setiap kompetisi yang diikuti — baik di Liga Topskor, Jakarta Barat Junior League, Top Soccer Championship, maupun di Persija Ramadhan Cup 2026 ini.
Dan ketika para pemain muda ini, bertahun-tahun dari sekarang, menengok ke belakang pada hari-hari mereka di lapangan Sawangan di bawah lampu yang terang di tengah malam, mereka tidak hanya akan mengingat angka-angka di papan skor. Mereka akan mengingat bagaimana rasanya berjuang bersama orang-orang yang mereka percaya, bagaimana rasanya bangkit setelah dihantam kekalahan, dan bagaimana rasanya membuktikan kepada diri sendiri bahwa mereka mampu melakukan lebih dari yang mereka bayangkan.
Itulah warisan sesungguhnya dari Persija Ramadhan Cup 2026. Dan perjalanan ini belum berakhir.
“TETAP SEMANGAT DAN TERUS BELAJAR”




