biMBA-AIUEO Soccer School

Garuda Memanggil: Muhammad Faiz Fathurahman, Kapten biMBA AIUEO SS yang Menembus Timnas U-17

Jakarta – Ada saat-saat dalam hidup di mana sebuah amplop mengubah segalanya. Di tangan Muhammad Faiz Fathurahman, surat bernomor 1265/PGD/64/III-2026 bertanggal 27 Maret 2026 itu bukan sekadar dokumen resmi berlogo PSSI — ia adalah jawaban dari setiap pagi buta yang dihabiskan berlari di lapangan, setiap lutut yang pernah terjatuh dan bangkit lagi, setiap doa kecil yang dipanjatkan dari sudut-sudut yang sederhana. Surat itu menyebut namanya. Satu nama, di antara seluruh anak-anak Indonesia kelahiran 2010 yang bermain sepak bola: Sdr. Muhammad Faiz Fathurahman (biMBA AIUEO SS).

Faiz resmi dipanggil oleh Pengurus Pusat PSSI untuk bergabung dalam pemusatan latihan Tim Nasional U-17 Putra Indonesia — Garuda United — sebagai bagian dari persiapan menghadapi AFC U17 Asian Cup 2027. Pemusatan latihan dijadwalkan berlangsung mulai 6 April hingga 31 Mei 2026, bertempat di Kabupaten Bekasi. Hampir dua bulan penuh. Dua bulan yang akan mendefinisikan ulang batas kemampuan seorang anak muda yang selama ini sudah terbiasa mendorong dirinya sendiri melampaui batas.

Dan yang membuat momen ini lebih dari sekadar berita olahraga biasa: Faiz adalah pemain pertama dari biMBA AIUEO Soccer School yang menerima panggilan resmi Tim Nasional. Sebuah sejarah kecil yang diam-diam bermakna besar.


Lahir untuk Memimpin: Sosok di Balik Ban Kapten

Di antara seluruh pemain yang pernah memakai seragam biMBA AIUEO SS, Faiz tumbuh menjadi figur yang melampaui definisi “pemain berbakat.” Ban kapten di lengannya bukan sekadar aksesori — ia mewakili kepercayaan rekan-rekan setimnya, kepercayaan Coach Dedy Doreis, dan kepercayaan seluruh keluarga besar biMBA AIUEO SS bahwa ada jiwa pemimpin sejati yang tinggal dalam diri bocah kelahiran 2010 ini.

Mereka yang pernah menyaksikannya bermain — baik di Liga Topskor, Persija Ramadhan Cup, maupun Jakarta Barat Junior League — tahu bahwa Faiz bukan tipe pemain yang paling keras berteriak. Kepemimpinannya berbicara melalui cara ia berlari ke dalam duel yang sulit ketika yang lain ragu. Cara ia merangkul rekan yang baru saja melakukan kesalahan, alih-alih menunjuk jari. Cara ia tetap tenang ketika papan skor menunjukkan ketertinggalan dan semua mata di lapangan mulai redup.

Di situlah letak kelas sesungguhnya. Ketenangan yang bukan pasif, melainkan ketenangan yang menular — memberi keyakinan kepada seluruh tim bahwa situasi masih bisa dikendalikan, bahwa masih ada jalan keluar, bahwa permainan belum selesai.

Bukan kebetulan bahwa rekan-rekannya — Barra, Kiki, Aldo, Ega, Vicko, Daffa, Keenan, Fikri, Abi, Kareka, Ibnu, Radit, Sancho, Satria, Alfarizi, Alex, Maung, dan yang lainnya — tumbuh sebagai kolektif yang solid. Setiap tim yang kuat membutuhkan satu orang yang menjadi pusat gravitasi. Di biMBA AIUEO SS, pusat gravitasi itu bernama Faiz.


Perjalanan yang Tidak Sekejap

Tidak ada prestasi besar yang lahir dari semalam. Panggilan Timnas ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum nama Faiz dikenal di luar lingkaran akademi. Perjalanan yang diisi dengan sesi latihan di Stadion VIJ, di lapangan Intercon, di ATG Sentul, di Koci Depok, di Senayan, dan di berbagai venue lain yang telah menjadi saksi bisu tumbuhnya seorang pemain.

Setiap pertandingan Liga Topskor yang dijalaninya adalah bab tersendiri. Ada bab kemenangan yang memabukkan, ada bab kekalahan yang mengajarkan lebih banyak dari kemenangan mana pun. Ada pertandingan di bawah terik matahari Bekasi di mana tubuh sudah meminta berhenti namun kaki terus berlari. Ada momen di Persija Ramadhan Cup ketika tekanan babak knockout terasa berlipat ganda — dan di situlah karakter sesungguhnya seorang pemain diuji.

Faiz melalui semua itu. Bukan tanpa cedera, bukan tanpa momen keraguan, bukan tanpa hari-hari di mana segalanya terasa berat. Tapi ia melaluinya. Dan setiap kali ia melaluinya, ia keluar sebagai versi yang lebih baik dari sebelumnya.

Inilah yang Scout Timnas lihat. Bukan sekadar pemain dengan kualitas teknis — meskipun kualitas itu tidak diragukan. Yang mereka lihat adalah pemain yang telah teruji. Pemain yang karakternya sudah terbentuk, bukan sekadar bakat mentah yang belum tahu ke mana akan diarahkan.


Surat yang Mengubah Segalanya

Pada 27 Maret 2026, Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi, SE membubuhkan tanda tangannya pada surat resmi dengan kode referensi MN1/MN12/SM/YN. Surat itu ditujukan kepada Ketua PSSI Provinsi Jawa Barat, memberitahukan pemanggilan pemain untuk Tim Nasional Sepakbola U-17 (Garuda United).

Isi surat itu jelas dan resmi: PSSI akan melakukan pembentukan Tim Nasional U-17 Putra kelahiran tahun 2010 sebagai persiapan mengikuti AFC U17 Asian Cup 2027. Bersamaan dengan itu, PSSI juga akan melanjutkan kompetisi EPA U18 musim 2025/2026 dengan Tim Nasional U-17 (Garuda United) kelahiran tahun 2010. Dan di antara nama-nama yang dipanggil, tercantum dengan tegas: Sdr. Muhammad Faiz Fathurahman (Bimba AIUEO SS).

Detail teknis pemusatan latihan: berlangsung dari tanggal 6 April hingga 31 Mei 2026, bertempat di Kabupaten Bekasi. Hampir delapan minggu penuh Faiz akan menjalani kehidupan sebagai bagian dari proyek besar pembangunan generasi emas sepak bola Indonesia.

Di sana, ia tidak lagi menjadi kapten biMBA AIUEO SS. Ia menjadi satu dari sekian banyak talenta terpilih dari seluruh penjuru Indonesia yang sama-sama berjuang untuk satu tempat, satu kesempatan, satu mimpi yang lebih besar. Lapangan bermain berubah. Intensitas berubah. Standar berubah. Tapi karakter yang telah dibentuk di lapangan-lapangan Jakarta dan sekitarnya — karakter itu tidak berubah. Dan karakter itulah modal terbesarnya.


Apa Artinya AFC U17 Asian Cup 2027

Bagi yang belum familiar, AFC U17 Asian Cup adalah turnamen paling bergengsi di level kelompok umur sepak bola Asia. Setiap edisi melahirkan nama-nama yang kemudian menjadi bintang sepak bola Asia — bahkan dunia. Indonesia memiliki ambisi besar untuk tampil kompetitif di panggung tersebut, dan pembentukan Garuda United adalah langkah konkret ke arah sana.

Pemusatan latihan yang diikuti Faiz bukan sekadar “kumpul-kumpul.” Ini adalah proses seleksi yang ketat, di mana setiap sesi latihan adalah audisi, setiap pertandingan uji coba adalah ujian, dan setiap keputusan pelatih mencerminkan standar tertinggi yang ditetapkan PSSI. Hanya yang terbaik dari yang terbaik yang akan memakai seragam Garuda di panggung Asia.

Faiz memasuki lingkungan itu bukan dengan tangan kosong. Ia membawa serta pengalaman bertanding di berbagai kompetisi kompetitif Jakarta, kemampuan memimpin tim, dan yang tidak kalah penting — mentalitas yang telah ditempa oleh sistem pembinaan biMBA AIUEO SS di bawah arahan Coach Dedy Doreis.


Coach Dedy Doreis dan Ilmu yang Ditanam

Di balik setiap pemain yang berhasil, selalu ada pelatih yang diam-diam menanam benih. Coach Dedy Doreis adalah sosok itu bagi Faiz — dan bagi seluruh pemain biMBA AIUEO SS.

Dalam dunia kepelatihan sepak bola muda, mudah untuk jatuh dalam perangkap mengutamakan hasil jangka pendek: menang pertandingan ini, naik klasemen itu. Yang jauh lebih sulit — dan jauh lebih berharga — adalah membangun fondasi yang benar. Membangun pemain yang tidak hanya tahu cara menendang bola, tetapi tahu mengapa mereka bermain, bagaimana mereka harus bersikap terhadap kemenangan dan kekalahan, dan siapa mereka sebagai manusia di luar lapangan.

Coach Dedy Doreis adalah tipe pelatih yang kedua. Dan Faiz adalah salah satu hasil terindah dari pendekatan itu.

Kebanggaan yang dirasakan Coach Dedy Doreis hari ini bukan kebanggaan yang bising. Ini kebanggaan yang dalam — jenis kebanggaan yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang tahu seberapa jauh perjalanan yang sudah ditempuh, seberapa banyak pagi yang dihabiskan di lapangan, seberapa banyak momen sulit yang dilalui bersama. Kebanggaan seorang pelatih yang melihat pemainnya bukan hanya berkembang sebagai atlet, tetapi berkembang sebagai manusia.


Sejarah yang Dibuka untuk Generasi Berikutnya

Faiz adalah yang pertama. Dan kata “pertama” dalam konteks ini memiliki bobot yang luar biasa besar.

Ketika seseorang menjadi yang pertama melakukan sesuatu, ia tidak hanya meraih pencapaian pribadi — ia mengubah batas dari apa yang dianggap mungkin oleh semua orang yang datang setelahnya. Sebelum Faiz, mungkin ada pemain biMBA AIUEO SS yang bermimpi dipanggil Timnas, tapi mimpi itu masih terasa jauh — sesuatu yang ada di langit, bukan sesuatu yang bisa dijangkau dengan tangan.

Sekarang, setelah Faiz, batas itu telah bergeser. Setiap pemain di biMBA AIUEO SS sekarang tahu — bukan sekadar percaya, tapi tahu — bahwa akademi ini bisa melahirkan pemain Timnas. Karena sudah ada buktinya. Bukti yang bernama Faiz.

Ini adalah hadiah terbesar yang bisa diberikan seorang pemain kepada rekan-rekan juniornya: bukan trofi, bukan medali, tapi bukti bahwa jalan itu ada. Bahwa jika kamu bekerja keras, berkembang, dan membangun karakter yang benar, pintu itu bisa terbuka untukmu juga.

Barra, Kiki, Aldo, Ega, Vicko, dan nama-nama lain di biMBA AIUEO SS — mereka kini bermain dengan referensi yang berbeda. Mereka bermain dengan tahu bahwa akademi mereka sudah melahirkan seorang Timnas. Dan itu mengubah segalanya.


Dua Bulan yang Akan Membentuk Masa Depan

Enam April 2026. Hari itu, Faiz akan melangkah masuk ke lingkungan pemusatan latihan Timnas U-17 di Kabupaten Bekasi. Di sana, ia akan bertemu dengan anak-anak terbaik Indonesia — pemain-pemain yang selama ini hanya ia lihat namanya di papan statistik kompetisi nasional, atau bahkan yang belum pernah ia dengar namanya sama sekali.

Kompetisi di antara mereka tidak akan mudah. Justru itulah poinnya. Tidak ada yang datang ke pemusatan Timnas untuk nyaman. Mereka datang untuk berkembang, untuk diuji, untuk membuktikan bahwa mereka layak mengenakan lambang Garuda di dada mereka.

Faiz akan menghadapi tantangan yang mungkin belum pernah ia rasakan sebelumnya dalam intensitas sebesar ini. Tapi satu hal yang tidak perlu diragukan: ia tidak akan menghadapinya tanpa bekal. Dua tahun lebih di biMBA AIUEO SS, puluhan pertandingan kompetitif, ratusan sesi latihan, dan satu identitas yang sudah terbentuk dengan kokoh — semua itu ia bawa serta ke Bekasi.

Ketika 31 Mei 2026 tiba dan pemusatan latihan berakhir, Faiz akan pulang sebagai versi dirinya yang baru. Entah ia nantinya masuk dalam skuad final Timnas atau tidak — proses dua bulan itu akan meninggalkan bekas yang permanen. Karena begitulah cara pengalaman besar bekerja: ia tidak sekadar mengajarkan teknik, ia membentuk ulang cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri dan terhadap dunia.


Sebuah Pesan untuk Seluruh Keluarga biMBA AIUEO SS

Kepada seluruh pemain, pelatih, orang tua, dan relawan biMBA AIUEO Soccer School:

Apa yang terjadi hari ini adalah milik kita bersama. Panggilan Timnas untuk Faiz bukan hanya prestasi satu orang — ini adalah buah dari ekosistem yang kita bangun bersama. Setiap latihan yang diberikan Coach Dedy Doreis, setiap dukungan orang tua di pinggir lapangan, setiap semangat yang dihembuskan rekan setim ketika situasi sulit — semua berkontribusi pada momen ini.

Dan kepada adik-adik yang masih dalam perjalanan: lihatlah apa yang baru saja terjadi. Faiz tidak dilahirkan sebagai kapten Timnas. Ia dibangun menjadi kapten — latihan demi latihan, pertandingan demi pertandingan, karakter demi karakter. Dan jika Faiz bisa, pertanyaannya bukan lagi “apakah saya juga bisa?” — pertanyaannya adalah “apa yang perlu saya lakukan agar saya juga bisa?”

Jawabannya sudah ada di hadapan kalian, setiap kali kalian menginjakkan kaki di lapangan.


Garuda sudah memanggil salah satu dari kita.

Dan ia pergi bukan sebagai individu semata — ia pergi membawa nama biMBA AIUEO Soccer School di punggungnya, dan semangat seluruh keluarga besar ini di dalam dadanya.

Selamat, Faiz. Terbang tinggi, Garuda muda. Indonesia menantimu.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Maskot biMBA AIUEO SS
⚽ Daftar Sekarang!