Sawangan – Satu tanggal. Dua laga. Satu akademi. Itulah ringkasan dari hari bersejarah yang terpahat indah di kalender biMBA AIUEO SS pada Minggu, 8 Maret 2026. Di lapangan hijau Persija Training Center, Sawangan, Depok, dua tim kebanggaan akademi turun berlaga dalam dua pertandingan berbeda — namun sama-sama membawa beban harapan, kehormatan, dan semangat juang yang tak padam.
Hari itu, matahari masih malu-malu mengintip dari balik awan ketika para pemain muda biMBA AIUEO SS mulai berdatangan. Ada yang menepuk bahu rekan setim, ada yang duduk diam menatap lapangan, ada pula yang menggerak-gerakkan kaki sembari mencoba menenangkan detak jantung yang tak bisa diajak berdamai. Maklum — ini bukan lagi penyisihan grup, bukan babak perempat final, bukan pula semifinal. Ini adalah penentuan. Ini adalah hari ketika nama-nama akan terukir, atau sebaliknya, terlewatkan begitu saja oleh arus waktu.
biMBA AIUEO SS Merah memburu medali perunggu di partai perebutan tempat ketiga, berhadapan dengan Ricky Nelson Academy. Sementara beberapa jam kemudian, biMBA AIUEO SS Biru melangkah ke panggung tertinggi — Final Persija Ramadhan Cup 2026 — menghadapi Putra Tangerang FC.
Dua pertandingan. Satu cerita besar tentang perjuangan, karakter, dan identitas sebuah akademi sepak bola muda.
BABAK PERTAMA: MERAH BANGKIT — PEREBUTAN TEMPAT KETIGA
Luka yang Diobati di Lapangan
Bagi biMBA AIUEO SS Merah, Minggu ini datang membawa dua rasa sekaligus. Di satu sisi ada pahitnya perpisahan dari impian juara — semifinal melawan SS Biru, saudara kandung mereka sendiri, telah menutup pintu menuju final. Di sisi lain, masih ada satu pertandingan tersisa. Satu kesempatan untuk pulang dengan kepala tegak, dengan medali di leher, dengan senyum yang tulus meski bukan senyum tertinggi.
Lawan yang menanti adalah Ricky Nelson Academy — tim yang tidak bisa dianggap enteng. Mereka tiba di partai perebutan perunggu bukan karena lemah, melainkan karena juga baru saja tersingkir di babak semifinal. Artinya, dua tim yang sama-sama terluka kini berhadap-hadapan untuk merebut sisa kehormatan yang tersedia.
Coach Dedy Doreis memimpin persiapan SS Merah dengan tenang namun penuh aura kepercayaan. Dalam sesi pengarahan singkat sebelum peluit pertama berbunyi, beliau menekankan satu hal di atas segalanya: jangan bermain untuk menghapus kekalahan semalam — bermainlah untuk merayakan perjalanan yang telah kalian tempuh.
Kalimat itu meresap. Para pemain SS Merah memasuki lapangan bukan dengan beban, melainkan dengan tekad yang bersih.
Formasi yang diterapkan menitikberatkan soliditas lini tengah — menguasai bola, membangun serangan dari belakang, dan tidak terburu-buru. Ricky Nelson Academy dikenal dengan transisi cepat dan pressing tinggi, sehingga kesabaran dalam penguasaan bola menjadi kunci.
Babak Pertama: Duello Ketat
Menit-menit awal berlangsung dalam keseimbangan yang sangat tipis. Ricky Nelson Academy tidak datang sekadar untuk melengkapi seremonial — mereka agresif, compact, dan berani menekan. Beberapa kali, lini belakang SS Merah harus bekerja keras menghalau ancaman yang datang dari sisi-sisi lapangan.
Namun SS Merah tidak goyah. Pertahanan mereka rapat, komunikasi antarlini terjalin baik, dan kiper tampil dengan ketenangan di atas usianya. Setiap bola lambung yang masuk kotak penalti, setiap umpan silang yang mencoba menjebol blok pertahanan — semua dibersihkan dengan disiplin.
Perlahan, momentum berpihak kepada SS Merah. Penguasaan bola mulai condong ke sisi mereka. Serangan mulai dibangun dari kaki ke kaki, dari belakang ke tengah, dari tengah menuju lini serang. Beberapa percobaan awal masih melambung atau melebar, namun tekanan terus mengalir.
Gol Kemenangan: Radit Bicara
Lalu datanglah momen yang menjadi jawaban atas semua pertanyaan hari itu.
Radit — sosok yang sepanjang turnamen telah menunjukkan kematangan dan keberanian dalam bermain — melangkah maju ke posisi yang tepat, di waktu yang tepat.
Sebuah pergerakan off-the-ball yang cermat, membuka ruang di antara dua bek lawan. Bola datang ke kaki kanannya dalam situasi yang tidak memberi banyak waktu untuk berpikir. Tapi Radit tidak butuh banyak waktu. Satu sentuhan untuk mengontrol, satu langkah untuk menyesuaikan posisi — dan satu tembakan bersih yang merobek jala gawang Ricky Nelson Academy.
1-0 untuk biMBA AIUEO SS Merah.
Sorak sorai di pinggir lapangan pecah. Sesama rekan tim berlari menghampiri. Ada pelukan, ada teriakan, ada kepalan tinju yang diangkat ke udara. Radit berlari dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan kata-kata — antara lega, bangga, dan bahagia yang sesungguhnya.
Di bench, Coach Dedy Doreis mengangguk pelan. Senyum tipis itu berkata banyak: inilah yang kami latih.
Menjaga Keunggulan: Karakter Sesungguhnya
Memimpin 1-0 dalam partai penting tidak berarti pekerjaan selesai. Justru sebaliknya — saat itulah karakter sebuah tim benar-benar diuji.
Ricky Nelson Academy tidak menyerah. Mereka menekan lebih keras, mengubah formasi, mencoba segala cara untuk menyamakan kedudukan. Momen-momen tegang itu hadir berkali-kali: tendangan sudut yang dipertahankan dengan gigih, bola-bola liar di kotak penalti yang dibuang dengan keberanian, serangan balik lawan yang dipotong di tengah jalan.
SS Merah menjawab semua itu dengan satu hal: disiplin kolektif. Tidak ada yang panik. Tidak ada yang bermain sendiri. Setiap pemain tahu tugas dan posisinya, dan mereka menjalankannya hingga peluit panjang berbunyi.
Skor akhir: biMBA AIUEO SS Merah 1-0 Ricky Nelson Academy.
Medali perunggu itu resmi menjadi milik mereka.
Refleksi: Perunggu yang Bernilai Emas
Dalam olahraga, selalu ada yang bertanya: apa artinya peringkat ketiga? Apakah itu kemenangan yang sesungguhnya, ataukah sekadar hiburan bagi mereka yang tidak berhasil masuk final?
Bagi biMBA AIUEO SS Merah, jawabannya sederhana: perjalanan inilah yang bermakna.
Mereka telah melewati fase grup, babak 8 besar, semifinal yang dramatis melawan saudara sendiri — dan kini, perebutan tempat ketiga. Setiap pertandingan meninggalkan pelajaran. Setiap peluit panjang membentuk karakter. Dan medali perunggu itu bukan simbol kegagalan — ia adalah simbol ketangguhan, konsistensi, dan semangat yang tidak pernah padam meski situasi tidak selalu berpihak.
Radit, dengan golnya yang tunggal namun berbobot penuh, akan selalu dikenang sebagai pahlawan partai itu. Tapi kemenangan 1-0 ini bukan milik satu orang — ia milik kolektif, milik tim, milik akademi.
BABAK KEDUA: BIRU MENYAPU BERSIH — FINAL PERSIJA RAMADHAN CUP 2026
Panggung Tertinggi, Tanggung Jawab Terbesar
Beberapa jam setelah SS Merah mengangkat trofi perunggu mereka, giliran biMBA AIUEO SS Biru memasuki arena. Tapi kali ini, bukan sekadar arena biasa — ini adalah final. Panggung tertinggi yang tersedia dalam turnamen Persija Ramadhan Cup 2026.
Lawan yang menanti: Putra Tangerang FC — tim yang menapaki babak final bukan karena keberuntungan, melainkan karena kualitas nyata yang mereka tunjukkan sepanjang turnamen. Mereka kuat, terorganisir, dan punya motivasi besar untuk membawa pulang trofi juara ke Tangerang.
Namun SS Biru juga tidak hadir tanpa modal. Mereka masuk final usai perjalanan panjang yang penuh drama — termasuk kemenangan tipis 1-0 atas DS Soccer di babak 8 besar, dan sebelumnya perjalanan konsisten di fase grup. Setiap pertandingan meninggalkan jejak kepercayaan diri yang semakin menguat.
Pengarahan Coach Dedy Doreis: Bermain untuk Warisan
Di tepi lapangan, sesaat sebelum kick-off, Coach Dedy Doreis mengumpulkan skuad SS Biru dalam lingkaran terakhir. Tidak ada instruksi taktis yang rumit. Tidak ada analisis lawan yang panjang. Hanya satu pesan yang disampaikan dengan suara tenang namun berwibawa:
“Kalian sudah sampai di sini karena kerja keras, bukan kebetulan. Sekarang, bermainlah seperti kalian bermain di latihan — penuh semangat, penuh hormat, penuh cinta terhadap sepak bola. Hasil akan mengikuti.”
Lingkaran itu pecah dengan teriakan semangat. Sebelas pemain melangkah ke lapangan dengan tatapan fokus dan langkah yang tidak terburu-buru namun tidak pula ragu-ragu.
Babak Pertama Final: Dominasi yang Dibangun Bertahap
Peluit kick-off berbunyi. Final dimulai.
Berbeda dari banyak ekspektasi publik yang mengira final akan berlangsung ketat dan berjalan lambat — SS Biru memilih strategi yang lebih berani: pressing dari awal, membangun tempo tinggi, dan tidak memberi ruang bagi Putra Tangerang FC untuk bernafas.
Hasilnya terasa dalam 10-15 menit pertama. SS Biru mendominasi penguasaan bola, memaksa Putra Tangerang FC bermain defensif lebih dalam dari yang mereka rencanakan. Kombinasi antarlini terjalin apik — bola mengalir dari belakang, melewati lini tengah yang mobile, menuju lini serang yang selalu bergerak dan sulit dijaga.
Beberapa peluang awal datang silih berganti, meski belum ada yang berhasil dikonversi. Namun tekanan itu nyata. Putra Tangerang FC tampak kewalahan membaca pergerakan pemain-pemain SS Biru yang tidak pernah berdiri diam.
Gol Pertama: Maung Membuka Pintu
Kemudian, seolah lapangan sudah bosan dengan kebuntuan, Maung tampil sebagai pembuka cerita.
Pergerakan Maung di sepertiga akhir lapangan selalu menjadi ancaman yang sulit diprediksi lawan. Ia tidak hanya bermain dengan kaki — ia bermain dengan kepala, membaca ruang sebelum ruang itu ada. Dan di momen krusial itu, ia membuktikannya.
Sebuah kombinasi pendek dengan rekan di lini serang menghasilkan celah sempit di sisi kiri pertahanan Putra Tangerang FC. Maung menerima umpan dalam posisi yang nyaris offside — namun ia terlalu cepat untuk dijerat jebakan itu. Satu langkah ke dalam kotak penalti, satu kontak bersih dengan bola, dan bola meluncur ke sudut bawah gawang.
1-0 untuk biMBA AIUEO SS Biru.
Lapangan bergetar. Suporter SS Biru — yang sebagian di antaranya juga baru saja menyaksikan kemenangan SS Merah — meledak dalam kegembiraan. Di bench, seluruh staf pelatih melompat berdiri.
Gol Kedua: Kiki — Sang Algojo Tak Kenal Ampun
Tak puas dengan satu gol, SS Biru tidak mengendurkan tekanan. Jika ada satu nama yang selalu membuat lawan merinding setiap kali namanya disebut di skuad SS Biru, itu adalah Kiki.
Sepanjang Persija Ramadhan Cup 2026 — bahkan sepanjang musim Liga Topskor 2026 — Kiki telah menjadi mesin gol yang konsisten. Ia tidak hanya sekadar pencetak gol oportunistik; ia adalah pemain yang secara aktif menciptakan peluang untuk dirinya sendiri dan orang lain.
Pada babak final ini, Kiki kembali membuktikan dirinya layak menyandang reputasi itu.
Sebuah serangan yang dibangun dari sisi kanan lapangan menembus pertahanan Putra Tangerang FC yang mulai terlihat kelelahan. Umpan terobosan yang akurat menemukan Kiki di posisi ideal — sedikit di luar kotak penalti, berhadapan diagonal dengan kiper. Dalam situasi seperti ini, ada pemain yang berpikir terlalu lama. Kiki tidak. Satu sentuhan, satu tembakan keras, dan bola menembus jaring gawang sebelum kiper sempat bereaksi.
2-0 untuk biMBA AIUEO SS Biru.
Pertandingan masih berjalan, namun kepercayaan diri SS Biru sudah meluap-luap. Putra Tangerang FC mencoba untuk tidak putus asa, namun kebuntuan psikologis itu mulai terasa: bagaimana cara mengejar tim yang bermain seperti ini?
Gol Ketiga: Aldo Menutup Indah
Putra Tangerang FC melancarkan serangan balasan di babak kedua, mencoba mengubah narasi pertandingan. Beberapa momen menegangkan hadir — tendangan yang nyaris masuk, situasi set-piece yang harus diwaspadai. Namun lini belakang SS Biru tampil kokoh, bukan hanya bertahan tapi juga membangun balik serangan dengan efektif.
Dan kemudian, seperti tanda tangan artistik di akhir sebuah karya, Aldo tampil menjadi penutup yang sempurna.
Aldo adalah tipe pemain yang tidak selalu terlihat paling dominan dalam statistik, namun kehadiran dan kontribusinya selalu terasa di lapangan. Ia adalah pemain yang membuat timnya lebih baik — bukan hanya dengan golnya, tapi dengan pergerakannya, dengan kerja kerasnya di lini tengah, dengan kemauan untuk berlari saat orang lain berjalan.
Di momen puncak final ini, Aldo mendapat giliran untuk berbicara paling keras.
Serangan SS Biru yang mengalir dari tengah lapangan menghasilkan ruang yang terbuka di depan kotak penalti. Bola bergulir ke kaki Aldo di area yang ideal — tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat. Cukup untuk membutuhkan keberanian dan teknik. Aldo memiliki keduanya. Tembakan keras dari luar kotak penalti melewati kiper yang sudah salah posisi, dan bola bersarang mulus di pojok gawang.
3-0 untuk biMBA AIUEO SS Biru.
Ini bukan sekadar gol pemanis. Ini adalah pernyataan: kami layak berada di sini, dan kami layak memenangkan ini.
Peluit Panjang: Selebrasi yang Meluap
Ketika wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, seluruh skuad biMBA AIUEO SS Biru berlari menuju satu titik — ke tengah lapangan, ke dalam pelukan satu sama lain.
Ada yang menangis. Ada yang tertawa. Ada yang sekadar berdiri diam, menatap langit, seolah tidak percaya bahwa momen ini sungguh nyata.
Skor akhir: biMBA AIUEO SS Biru 3-0 Putra Tangerang FC.
Juara Persija Ramadhan Cup 2026 kategori U-16 adalah biMBA AIUEO SS Biru.
Trofi itu diangkat bersama. Bukan oleh satu orang, bukan oleh kapten seorang diri — melainkan oleh semua tangan yang berhak menyentuhnya. Karena kemenangan ini bukan milik satu dua individu. Ia milik kolektif. Ia milik sistem. Ia milik filosofi yang ditanamkan Coach Dedy Doreis sejak hari pertama latihan.
Di penghujung hari itu, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahayanya menguning di atas Sawangan, ada pemandangan yang sulit dilupakan.
Para pemain biMBA AIUEO SS Biru masih mengenakan medali emas mereka. Para pemain SS Merah mengenakan medali perunggu. Mereka berdiri berdampingan — dua tim yang dua hari sebelumnya saling berhadapan dalam “perang saudara” semifinal, kini bersatu kembali di bawah bendera yang sama.
Di antara keduanya, Coach Dedy Doreis berdiri dengan tenang. Matanya menyapu semua wajah muda itu satu per satu. Ia tidak perlu berkata banyak — ekspresinya sudah bercerita.
Inilah yang kami bangun. Bukan hanya tim yang menang. Tapi manusia yang tangguh.
Persija Ramadhan Cup 2026 telah usai. Dan biMBA AIUEO SS — baik Biru maupun Merah — pulang bukan hanya membawa medali. Mereka pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: kepercayaan pada proses, keberanian untuk berjuang, dan pemahaman bahwa dalam sepak bola — seperti dalam kehidupan — karakter adalah trofi yang sesungguhnya.
Selamat, biMBA AIUEO SS. Selamat, para pemain, para pelatih, para orang tua, dan seluruh keluarga besar akademi.
Sampai jumpa di turnamen berikutnya — dengan semangat yang sama, atau bahkan lebih membara.
“TETAP SEMANGAT DAN TERUS BELAJAR”





